Di tengah riuh kehidupan harian yang kembali berjalan normal, ada sebagian masyarakat kita yang secara tidak sadar masih menyimpan sedikit keraguan atau kekhawatiran saat memasuki bulan kedua ini. Sejarah panjang mitos dan prasangka lama seolah masih menyisakan bisikan halus di telinga: bahwa Safar adalah bulan yang penuh ujian, kemalangan, atau bahkan kesialan.
Namun, di sinilah keindahan ajaran yang diwariskan oleh para ulama kita bekerja. Islam hadir bukan untuk memelihara ketakutan yang tidak beralasan, melainkan untuk meluruskan cara pandang (mindset) dan memerdekakan batin manusia dari prasangka yang melelahkan.
Safar bukanlah bulan yang menakutkan, melainkan panggung untuk membuktikan sejauh mana keimanan dan prasangka baik (husnuzhan) kita kepada Allah SWT telah menghujam di dalam dada.
Menghapus Mitos dengan Tauhid yang Kokoh
Secara kebahasaan, kata Safar dapat diartikan sebagai “kosong” atau “sepi”. Dahulu, masyarakat Arab di era pra-Islam sering meninggalkan rumah-rumah mereka hingga kosong untuk melakukan perjalanan atau pertempuran setelah selesainya bulan-bulan haram. Dari kebiasaan dan kekosongan itulah tumbuh berbagai anggapan miring bahwa Safar adalah bulan yang membawa sial.
Nabi Muhammad SAW secara tegas mengikis semua prasangka dan mitos kesialan (thiyarah) tersebut. Beliau mengajarkan bahwa tidak ada satu pun hari, bulan, atau waktu yang diciptakan Allah SWT khusus untuk membawa kemalangan. Semua waktu adalah netral dan suci, dan apa yang terjadi di dalamnya sangat bergantung pada bagaimana kita mengisinya.
Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak ada penularan penyakit (dengan sendirinya tanpa takdir Allah), tidak ada kesialan dalam anggapan burung, tidak ada kemalangan pada burung hantu, dan tidak ada kesialan pada bulan Safar.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Mengubah Rasa Cemas Menjadi Husnuzhan
Dalam khazanah keilmuan yang sering diulas dalam tradisi pesantren dan literatur ulama Nusantara, pendekatan terhadap masa-masa yang dianggap rawan bukanlah dengan lari dalam ketakutan, melainkan dengan memperbanyak amal saleh dan doa. Jika ada tradisi berdoa memohon perlindungan dari marabahaya (tolak bala), hal itu dilakukan bukan karena membenci bulan Safar, melainkan sebagai bentuk permohonan agar kita senantiasa dilindungi dalam kondisi apa pun dan di waktu mana pun.
Pendekatan ini sangat menyejukkan. Daripada terjebak dalam kecemasan pasif—takut melangkah, takut memulai usaha, atau takut melakukan perjalanan—umat diajak untuk bertindak aktif: mendekatkan diri kepada Sang Pemilik Waktu.
“Katakanlah: ‘Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakal.'” (QS. At-Taubah: 51)
Ketenangan jiwa seorang mukmin lahir dari kepasrahan yang rasional ini. Ia sadar bahwa tugas utamanya adalah berusaha sebaik mungkin, berdoa dengan tulus, lalu menyerahkan semua hasilnya kepada kehendak Allah yang Maha Pengasih.
Kebajikan Sosial sebagai Perisai Jiwa
Di bulan Safar, salah satu amaliyah terindah yang sangat dianjurkan adalah memperbanyak sedekah dan pelayanan sosial (khidmah).
Sedekah dalam ajaran kita bukan sekadar transaksi materi, melainkan sebuah instrumen spiritual yang mampu melapangkan dada dan menolak berbagai bentuk bencana batin.
Ketika kita merasa gelisah atau cemas menghadapi masa depan, obat paling manjur bukanlah dengan mengurung diri, melainkan dengan keluar dan berbagi kebahagiaan kepada orang lain.
Menyapa tetangga dengan ramah, memberikan bantuan kepada yang membutuhkan, atau sekadar meringankan beban kerabat yang sedang kesulitan adalah cara terbaik untuk mengundang rahmat Allah.
Menjadikan Safar sebagai Bulan Langkah Baru
Sejarah Islam juga mencatat bahwa bulan Safar bukanlah bulan pasif. Di bulan inilah Rasulullah SAW mulai melangkah dalam perjalanan hijrah yang monumental menuju Madinah, serta merestui pernikahan putri tercinta beliau, Sayyidatina Fatima az-Zahra dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Peristiwa-peristiwa indah ini menjadi bukti konkret bahwa Safar adalah bulan yang penuh dengan keberkahan, keputusan besar, dan pembukaan jalan baru.
Maka, tidak ada alasan bagi kita untuk menunda kebaikan, menahan niat baik, atau takut melangkah hanya karena berada di bulan Safar. Justru, jadikan bulan ini sebagai momentum untuk memulai hal-hal baik dengan niat yang bersih dan doa yang kencang.
Mari kita jalani hari-hari di bulan Safar ini dengan dada yang lapang dan optimisme yang hangat. Kibas semua mitos yang melumpuhkan langkah, dan gantikan dengan prasangka baik yang menyalakan semangat.
Waktu adalah hamba Allah yang tidak memiliki niat jahat. Ia bergerak atas perintah Sang Pencipta untuk menjadi wadah bagi kita mengumpulkan bekal kebaikan.
Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat, perlindungan, dan keberkahan dalam setiap jengkal langkah kita di bulan Safar ini, serta menjauhkan batin kita dari segala bentuk ketakutan yang tidak beralasan. Amin.









